5 Aktivis ‘Revolusioner’ yang Mati Bunuh Diri

Oleh: Galih Pakuan

[UNIKNYA.COM]: Aksi-aksi demonstrasi memang selalu ada dan ramai dilakukan oleh para aktivis, baik secara intelektual, propaganda, turun ke jalan dan menduduki instansi, ataupun melakukan sebuah sabotase dan kekacauan lainnya. Demonstrasi perlawanan tersebut terjadi karena adanya pertentangan kepentingan di dalam sebuah bernegara, antara ‘rakyat’ dan pemerintah. Dan dalam sebuah aksi selalu memunculkan sosok ataupun persona yang menonjol diantara para aktivis lainnya, sosok ini kemudian dianggap menjadi bintang dan motivator terjadinya gerakan perlawanan. Namun tidak semua sosok aktivis tersebut mampu menahan dan sabar dalam menerima ketidakadilan terhadapnya, beberapa dari mereka memutuskan untuk pensiun dari kancah politik, mencari suaka ke negara lain, dan bahkan beberapa lainnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya, seperti 5 aktivis yang melakukan bunuh diri berikut:

 

1. Yukio Mishima

 

[spoiler]

Yukio Misihima (sumber : berbagai sumber, uniknya.com)

[/spoiler]

 

Yukio Misihima (1925-1970)  merupakan nama pena dari seorang seniman, penyair, penulis dan aktor Jepang, Kimitake Hiraoka. Pria yang memiliki multi-talenta ini pun pernah tiga kali dinominasikan untuk peraih Nobel Penghargaan untuk bidang sastra. Ia adalah seorang pemberani dalam menentang apa yang tidak disukai dan dirasakannya tidak adil. Ia menceburkan diri dalam sebuah aksi upaya kudeta di Jepang. Ia bersama kawan-kawan seperjuangan mendatangi kantor Departemen Pertahanan Jepang, memaksa untuk memasuki gedung dan mendudukinya, dan menyadera seorang komandan yang sedang bertugas. Mishima bergegas ke arah balkon dan melakukan sebuah orasi dihadapan massa dan para prajurit untuk menginspirasi mereka untuk melakukan sebuah pemberontakan terhadap kesewenangan pemerintahan Kekaisaran Jepang. Namun kebanyakan para prajuri dan massa yang saat itu hadir menertawakannya, Mishimo yang diduga merasa dilecehkan, frustasi dan gagal, bergegas mundur, pergi ke sebuah ruangan dan melakukan aksi Sepukku—ritual bunuh diri dalam budaya Bangsa Jepang, dilakukan dengan menusukkan sebilah pedang ke tubuh, sebagai simbol pembelaan harga diri.

 

2. Meir Feinstein dan Moshe Barazani

 

[spoiler]

Meir Feinstein dan Moshe Barazani (sumber : wordpress.com)

[/spoiler]

 

Meir Feinstein (1927–1947) dan Moshe Barazani (1928–1947), keduanya terlibat dalam sebuah aksi sabotase di Palestina yang saat itu dikuasai oleh Inggris. Mereka memperjuangkan negara mereka agar terbebas dan merdeka dari usaha membangun Negara Israel—saat itu bangsa Yahudi masih dihantui oleh aksi holocoust Nazi Jerman. Feinstein harus kehilangan tangannya ketika sedang berusaha memasang alat peledak di sebuah stasiun kereta. Bahkan, keberanian Feinstein mengantarkannya pada kematian. Setelah ditangkap dan menolak untuk diberi pendamping hukum serta menolak disidangkan, ia dan Barazani melakukan upaya penyelundupan granat, disembunyikan dalam sebuah jeruk dan meledakkan diri mereka, sebagai upaya menolak hukuman dari pemerintah Inggris.

 

3. Ulrike Meinhof

 

[spoiler]

Ulrike Meinhof (sumber : berbagai sumber, uniknya.com)

[/spoiler]

 

Ulrike Meinhof (1934–1976), seorang penulis perempuan yang berbakat dan gencar meneriakan kepentingan perempuan dan aksi militansi gerakan kiri di Jerman. Ia menjadi popular pada percaturan politik Jerman pasca Perang Dunia II, ia bahkan dikenal radikal dan dicap sebagai teroris. Kecantikan, kepintaran dan keberanian, membawanya untuk terlibat lebih jauh dalam sebuah aksi. Salah satu keberhasilannya adalah membebaskan teman sejawatnya di Faksi Red Army, sang perintis Andreas Baader. Ia pun banyak melakukan berbagai perampokan bank dan pemboman. Namun pada suatu waktu ia akhirnya tertangkap,  tak lama setelah ditahan, tubuhnya ditemukan menggantung dalam lilitan anduk di dalam sel. Pesan terakhirnya adalah,  “Resistance is when I ensure what does not please me occurs no more.”

 

4. Berty Albrecht

 

[spoiler]

Berty Albrecth (sumber : berbagai sumber, uniknya.com)

[/spoiler]

 

Kaum laki-laki ternyata tidak selalu mendominasi aksi keberanian dalam usaha pergerakan revolusioner, namun semangat dan gejolak revolusi pun dimiliki oleh kaum hawa, seperti halnya Berty Albrecth (1893-1943). Ia memulai aksi dan menyebarkan pemberontakannya melalui sebuah jurnal yang ditulisnya. Ia menuliskan sebuah kampanye hak asasi perempuan dalam membatasi anak yang akan dikandungnya dan hak untuk melakukan aborsi. Ketika Nazisme merebak di seantero Jerman, ia pun menjadi sukarelawan yang mengurus para pengungsi Jerman di Prancis bersama Henri Frenay, dan mengampanyekan sebuah peralawanan. Tidak hanya dengan menuliskan pemikirannya dalam berbagai pamflet dan menyerang buku-buku  partai Nazi, ia pun menjadi pengatur dalam jaringan aksi perlawanan. Albrecth bahkan mencoba meyakinkan penguasa Prancis bahwa ia tidak berbahaya, namun pihak Jerman terlebih dahulu menangkap dan memenjarakannya. Di dalam penjara, kemudian memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.

 

5. Mohamed Bouazizi

 

[spoiler]

Mohamed Bouazizi (sumber : berbagai sumber, uniknya.com)

[/spoiler]

 

Mohamed Bouazizi (1984–2011), seorang penjaja makanan di jalan raya, yang mendapatkan tindakan pelecehan dari seorang oknum polisi dan barang-barang daganganya pun disita. Merasa diperlakukan tidak adil, ia pun  menyatakan keluhannya terhadap pemerintah, namun upayanya tersebut tidak direspon oleh pemerintah Tunisia saat itu. Sebuah dorongan keberanian dan kekecewaan menuntunnya untuk melakukan sebuah aksi bakar diri di halaman Kantor Gubernur di tahun 2010 lalu. Dikatakan aksinya tersebut juga menginspirasi terjadinya Revolusi di Tunisia, walaupun Bouazizi akhirnya meninggal pada Januari 2011 setelah mendapatkan perawatan dari rumah sakit.  Tak lama kemudian aksi melawan dan upaya melengserkan pemerintahan yang dikuasai oleh rezim Presiden  Zine El Abidine Ben Ali selama 23 tahun. (**)

 

Sumber: brainz.org, uniknya.com, Maret 2012.

 

Exit Jangan Lupa Klik Like/Suka www.uniknya.com