Kelahiran 3 Agustus (K.H. Yusuf Hasyim)

[UNIKNYA.COM] K.H. Yusuf Hasyim lahir di Jombang, Jawa Timur, 3 Agustus 1929 – meninggal di Surabaya, Jawa Timur, 14 Januari 2007 pada umur 77 tahun ini adalah politikus Indonesia, tokoh Nahdlatul Ulama, dan pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang sampai 2006. Ia adalah anak K.H. Hasyim Asy’arie, pendiri NU, dan paman dari Abdurrahman Wahid, presiden Indonesia keempat.

KH. Muhammad Yusuf Hasyim atau biasa dipanggil Pak Ud, tergolong pengasuh terlama di Tebuireng setelah Kiai Hasyim Asy’ari. Pak Ud mengasuh Tebuireng selama 41 tahun (1965-2006), sementara Kiai Hasyim mengasuh Tebuireng selama 48 tahun (1899-1947). Selain itu, Pak Ud juga tergolong pengasuh Tebuireng yang berumur panjang bila dibandingkan dengan kakak-kakaknya. Kiai Wahid Hasyim wafat di usia 39 tahun, KH. Abdul Kholik wafat dalam usia 48 tahun, dan KH. Abdul Karim Hasyim wafat pada usia 54 tahun. Sementara Pak Ud wafat pada usia 77.

 

K.H. Yusuf Hasyim (sumber: blogspot.com)

 

Masa kecilnya dihabiskan di Tebuireng. Dia belajar membaca al-Quran langsung dari ayahandanya. Ketika melakukan perjalanan, Kiai Hasyim sering meminta Muhammad Yusuf kecil untuk mengulangi hapalan ayat-ayat Al-Quran, baik saat naik mobil, kereta api, atau naik delman (dokar).

Sejak berumur 12 tahun, dia mondok di Pesantren Al-Quran Sedayu Lawas, Gresik, yang dipimpin oleh Kiai Munawar. Kemudian pindah ke pesantren Krapyak, Jogjakarta, di bawah asuhan Kiai Ali Ma’sum. Setelah dari Krapyak, Pak Ud sempat menimba ilmu di pondok modern Gontor, Ponorogo.

Meskipun tidak sempat mengenyam pendidikan formal, tapi Pak Ud rajin membaca dan banyak bergaul dengan kalangan terpelajar. Hal itu diimbangi dengan ketajaman intuisi dan keluwesan bergaul. Ini sangat mendukung ketika Pak Ud harus terjun sebagai politisi Nasional di kemudian hari.

Mundur dari aktivitas sebagai tentara, dengan pangkat terakhir Letnan Satu, Pak Ud memulai kariernya di kancah politik praktis. Perjalanan karier sebagai politikus dimulai ketika Pak Ud menjadi wakil Sekretaris Jenderal di Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI).

Antara tahun 1963-1964, Pak Ud dihadapkan dengan kenyataan banyaknya aksi sepihak berupa perebutan tanah rakyat (land reform) yang dilakukan anggota PKI. Menghadapi aksi ini, NU membentuk Barisan Serba Guna (Banser) tahun 1964. Banser diharapkan mampu mengimbangi aksi sepihak PKI. Pak Ud didapuk menjadi komandan.

Dua tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1967, Pak Ud mengawali karier politik dengan menjadi wakil rakyat ketika ada refreshing (penyegaran) keanggotaan DPRGR (Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong). Kebijakan merombak keanggotaan DPRGR ini menyusul terbitnya instruksi Jenderal Soeharto, yang mengaku mengemban Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) untuk membersihkan parlemen dari anggota yang berasal dari PKI dan simpatisan Orde Lama.

Memasuki gerbang DPR, Pak Ud segera terlibat dalam berbagai proses politik yang sangat dinamis di hari-hari menjelang berakhirnya kekuasaan Orde Lama. Karier di DPR terus bertahan hingga tahun 1980-an.
Menjelang pemilu 1982, hubungan antara NU dengan PPP pimpinan Naro putus, sehingga Pak Ud pun tergusur dari DPR. Namun Pak Ud tidak begitu saja meninggalkan gelanggang politik. Sebagai salah seorang ketua PBNU, beliau turut berperan ketika NU memutuskan serangkaian kebijakan bersejarah tahun 1984, seperti kembalinya khittah NU 1926 dan penerimaan Pancasila sebagai asas tunggal.
Di masa reformasi, dimana banyak bermunculan partai-partai politik, Pak Ud ikut meramaikannya dengan membentuk Partai Kebangkitan Umat. Lalu menjelang akhir hayatnya, Pak Ud dipercaya sebagai anggota Majelis Pertimbangan Partai PPP.

Setelah 41 tahun mengasuh Tebuireng, pada April 2006, Pak Ud mengundurkan diri dari pengasuh Tebuireng dan menyerahkan estafet kepemimpinan kepada keponakannya, Ir. H. Salahudin Wahid. Disamping karena alasan usia (saat itu usia Pak Ud sudah 77 tahun), pengunduran dirinya itu juga untuk menciptakan tradisi suksesi kepemimpinan yang sehat, mulus, dan terarah.

Delapan bulan setelah suksesi kepemimpinan itu, tepatnya pada 30 Desember 2006, Pak Ud terjatuh di kamar rumahnya di Desa Cukir, selatan Tebuireng. Setelah itu beliau mengeluh sakit pinggang. Karena kondisinya semakin memburuk, keesokan harinya beliau dibawa ke RSUD Jombang dan dirawat selama tiga hari. Lalu pada tanggal 2 Januari, Pak Ud dirujuk ke RSUD Dr Soetomo Surabaya.

Setelah dirawat selama 12 hari di sana, pada hari Minggu 14 Januari 2007, Pak Ud dipanggil menghadap Yang Maha Kuasa. Inna liLlahi wa Inna ilayhi Raji’un. Jenazah Pak Ud kemudian dibawa ke Tebuireng dan dikebumikan di komplek pemakaman keluarga Pesantren Tebuireng.

Untuk mengenang jasa-jasa perjuangannya, markas besar Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Jakarta, menetapkan Pak Ud sebagai pahlawan Nasional. Penganugerahan itu dilakukan pada pertengahan Maret 2007, diwujudkan dengan pemancangan miniatur bambu runcing dengan bendera kecil merah-putih di ujungnya. Miniatur bambu runcing merupakan simbol bahwa Pak Ud adalah pahlawan nasional yang dimakamkan di luar Taman Makam Pahlawan Nasional.

Sumber : Wikipedia.org, Blogspot.com, uniknya.com, Agustus 2012

Exit Jangan Lupa Klik Like/Suka www.uniknya.com